Friday, 3 June 2016

Tingkatan Derajat Manusia di Akhirat (Part 2)

Tingkatan Derajat Manusia di Akhirat (Part 2), dimana posisi  kita?

Sebagai manusia, tentu kita tidak dapat memastikan dimana tempat peristirahatan terakhir kita. Apakah di surga atau di neraka, naudzubillahi min dzalik. Namun Ibnu Qoyyim Al Jauzyah, Seorang ulama abad ke-13, mencoba menampilkan gambaran global mengenai tingkatan manusia di akhirat. Tujuannya sederhana, mengetuk hati kecil setiap insan yang sadar, kira-kira kita berada di level berapa kelak di akhirat?

Baca Juga Artikel Sebelumnya

7. Ahlu Itsar

Yaitu mereka yang mengutamakan orang lain daripada diri sendiri. Mereka mengeluarkan harta siang dan malam, sembunyi-sembunyi maupun terang terangan. Semua itu mereka lakukan demi mengharap ridha Allah. Allah berfirman:
“Dan diantara manusia ada yang membeli dirinya (berinfak di jalan Allah) karena mengharapkan ridha Allah. Dan Allah maha penyantun terhadap hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Baqarah: 207)
Mereka meraih balasan itu karena peran mereka sangat vital dalam memabntu umat. Mka kita dapat melihat bahwa eksistensi dakwah Rasulullah di Mekah tidak lepasa dari sokongan dana dari Khadijah. Dengan harta yang banyak kau yang lemah yang tertindas dapat diselamatkan. Dan dengan harta mereka pula, panji-panji jihad dapat ditegakkan.

8. Ashabu Ribh (Orang Yag Beruntung)

Yaitu golongan yang dimudahkan Allah untuk melaksanakan amalan shalih, namun terbatas pada ketaan pribadi tanpa berkaitan dengan orang lain. Mereka mengerjakan kebaikan-kebaikan agama, seperti melaksanakan shalat, zakat, dan puasa. Mereka juga meninggalkan larangan-larangan agama seperti gibah, zina dan sebagainya.
Selain itu mereka juga bersungguh-sungguh mengerjakan amalan-amalan sunnah. Seperti I’tikaf, membaca Al Quran, dzikir dan lain sebagainya. Jika mereka terjerumus dalam sebuah dosa, mereka bersegera untuk bertaubat darinya.
Golongan ini adalah orang-orang yang beruntung, walau levelnya tidak sebaik orang-orang yang masuk dalam golongan ahlu itsar. Sebab mereka hanya akan dapt pahala dari amalanya sendiri. Jka mereka meninggal, terputuslah amalan mereka. Sebab mereka tidak memiliki amalan yang menyebabkan mereka dapat berserikat di dalamnya.

9. Ashabun Najjah

Yaitu golongan yang melaksanakan amalan ketaatan namun terbatas pada hal-hal yang diwajibkan oleh Allah, tanpa menambahnya dengan amalan-amalan sunnah. Mereka adalah golongan yang disebut Rasulullah SAW sebagai orang-orang yang selamat.
Suatu ketika seorang laki-laki dari Nejed menemui RasulullahSAW untuk bertanya tentang syariat Islam. Rasulullah hanya menerangkan hal-hal wajib dalam agama, seperti shalat, puasa, dan zakat.
Tatkala orang itu meninggalkan Rasulullahdan dan para sahabatnya, ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menambah dan tidak akan mengurangi dari apa yang engkau katakan.”
Tatkala orang itu pergi, Rasulullah bersabdah “dia akan selamat, jika dia jujur.”
Allah menghapus segala dosa-dosa kecil bagi para ahlun najjah, sebagai balasan atas amalan wajib yang mereka kerjakan. Allah berfirman:
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang dilarang kamu mngerjakannya, niscaya Kami menghapus kesalahan-kesalanmu (dosa-dosa kecilmu) dan kami masukkan kamu ketempat yang mulia (surga).” (QS An-Nisa’: 31)

10. Ahlu Israf (Yang Melampaui Batas)

Tingkatan manusia selanjutnya adalah orang-orang yang senantiasa menzalimi diri sendiri dengan berbagai kemaksiatan dan dosa. Akan tetapi sebelum ajal menjempunnya, Allag menganugrainya taubatan nasuha. Sehingga dia meninggal dalam keadaan segala kejahatan dan dosanya terampuni.
Golongan iniakan mendapat ampunan Allah dan diselamatkan dari adzab-Nya. Hanya saja posisi mereka tidak akan pernah melampaui orang-orang dengan derajat diatasnya. Sebab tidak mungkin sama antara orang yang habiskan seluruh umurnya melakukan ketaatan dan orang yang hanya melakukan kebaikan di sisa hidupnya.

11. Ahlu Ikhtilat (Golongan Yang Bercampur Antara Amal Shaleh Dengan Kemaksiatan)

Yaitu orang yang mnegerjakan amalan shaleh, namun juga tidak meninggalkan keburukan. Hal itu tetap ia lakukan hingga berjumpa dengan Allah
Jika kebaikannya lebih bayak dari keburukan, mereka akan selamat dari siksa neraka. Allah berfirman:
“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barang siapa yang berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS Al A’araf: 8-9)
Hudzaifah dan ibnu Mas’ud berkata, manusia di hari kiamat dikumpulkan menjadi tiga golongan. Barang siapa yang amal kebaikannya lebih banyak dari keburukannya walaupun hanya satu masuk surga. Barang siapa amalan keburukannya lebih banyak, walaupun hanya satu, masu neraka. Barang siapa yang amalan baik dan amalan buruknya berimbang, dia termasuk ahlu a’raf.

12. Ashabul A’raf

Yaitu mereka yang nilai amalan sholehnya sebanding dengan nilai amalan keburukannya. Sehingga, dengan posisis seperti itu, mereka mempunyai peluang yang sama untuk menjadi ahli surga atau ahli neraka, disebabkan samanya jumlah kebaikan dan keburukannya.
Di akhirat kelak, mereka akan ditempatkan di suatu tempat yang amat tinggi antara surga dan neraka. Itulah sebabnya mereka disebut ahlul a’raf (penghuni tempat yang tinggi). Di tempat itu mereka dapat melihat kengerian siksaan neraka, dan juga melihat kenikmatan surga.
Ketika mereka meihat penduduk surga, mereka mengucapkan salam kepadanya. Namun tatkala mereka mengarahkan pandangan kepada penduduk neraka, mereka berkata, “Ya Allah, janganlah engkau gabungkan kami dengan orang-orang dzalim itu.”
Diantara penduduk surga ada orang lemah yang sewaktu di dunia sering diolok-olok oleh para penduduk neraka. Maka ashabu a’araf berkata kepada penduduk neraka, “ apakah orang ini (orang lemah dari kaum muslimin) yang kalian bersumpah, bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat dari Allah?

Semua hal tersebut tertuang dalam firman Allah dalam Surat Al A’araf: 46-49. Ashabul A’raf termasuk penduduk surga. Hanya saja mereka adalah golongan yang memasuki surga paling terakhir diantara golongan yang memasukinya tanpa disiksa terlebih dahulu.


--Bersambung--

Baca juga artikel sebelumnya dan selanjutnya
Tingkatan Derajat Manusia di Akhirat (Part 1)
Tingkatan Derajat Manusia di Akhirat (Part 3)

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, silahkan bagikan artikel ini. Semoga bisa menjadi amal jariyah. Barakallah fikum.

0 komentar:

Post a comment