Friday, 3 June 2016

Tingkatan Derajat Manusia di Akhirat (Part 1)

Tingkatan Derajat Manusia di Akhirat (Part 1)

Sebagai manusia, tentu kita tidak dapat memastikan dimana tempat peristirahatan terakhir kita. Apakah di surga atau dineraka, naudzubillahi min dzalik. Namun Ibnu Qoyyim Al Jauzyah, Seorang ulama abad ke-13, mencoba menampilkan gambaran global mengenai tingkatan manusia di akhirat. Tujuannya sederhana, mengetuk hati kecil setiap insan yang sadar, kira-kira kita berada di level berapa kelak di akhirat?

Itulah yang ingin disampaikan oleh Ibnu Qoyyim Al Jauziyah. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan dan semangat kita untuk terus memperbaiki kualitas diri. Sehingga menjadi golongan yang tinggi di akhirat kelak.

Tingkatan Derajat Manusia di Akhirat, dimana posisi  kita?  Sebagai manusia, tentu kita tidak dapat memastikan dimana tempat peristirahatan terakhir kita. Apakah di surga atau dineraka, naudzubillahi min dzalik. Namun Ibnu Qoyyim Al Jauzyah, Seorang ulama abad ke-13, mencoba menampilkan gambaran global mengenai tingkatan manusia di akhirat. Tujuannya sederhana, mengetuk hati kecil setiap insan yang sadar, kira-kira kita berada di level berapa kelak di akhirat?


Tingkatan-tingkatan Manusia Di Akhirat
1.       Para Nabi ‘Ulul Azmi
2.       Para Rasul
3.       Para Nabi
4.       Shiddiqun
5.       Imam Yang Adil
6.       Mujahid fi Sabilillah
7.       Ahlu Atsar
8.       Ashabu Ribhin
9.       Ashabu Najjah
10.   Ahlu Israf
11.   Ahlu Ikhtilath
12.   Ashabul A’raf
13.   Ahlul Minhah
14.   Golongan yang tidak memiliki keimanan dan tidak pula kekufuran
15.   Ahlu Zindiq
16.   Para pemimpin kekafiran
17.   Para pengikut kekafiran
18.   Jin yang kafir

1. Para Nabi ‘Ulul Azmi

Peringkat manusia paling tinggi di surga adalah para nabu ulul azmi, yaitu Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam. Mereka berhak mendapatkan keagungan tersebut, sebagai balasan atas perjuangan mereka di dunia. Mereka menjadi teladan dalam kesabaran dan keteguhan dalam memegang dan mendakwahkan agama islam. Naa-nama mereka terangkai indah dalam Ayat-Nya, da kita diperintahkan untuk meneladani di setiap langkah perjuangannya. Allah berfinman yang artinya:
“Dia telah mensyari’atkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepada mu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (Qs Asy Syura: 13)

2. Para Rasul

Tingkatan manusia selanjutnya adalah para rasul utusan Allah. Allah memilih mereka sebagai penyampai wahyu kepada manusia. Mereka mengampu amanat membimbing hamba yang tersesat menuju jalan ilahi. Keberadaan mereka ditengah umat laksana pelita ditengah malam gelap gulita. Untuk mnyalakan cahaya keimanan dimuka bumi, mereka rela mengorbankan harta, jiwa dan raga.

Tidak ada yang mengetahui bilangan para Rasul yang diutus. Informasi yang kita daptkan baru 25 nama. Meski manusia akhir zaman tidak mengenal mereka semua, namun Allah tidak pernah lupa. Semua tersimpan dalam ilmu dan hikmah-Nya. Allah berfirman yang arinya:
“Dan sungguh kami telah mengutus beberapa Rasul sebelummu; Diantara mereka ada yang Kami ceritakan perihalnya kepada mu, dan adapula yang tidak kami caritakan kepadamu.” (QS. Ghafir: 78)

3. Para Nabi

Tingktan manusia selanjutny adala para nabi. Secara bahasa nabi berasal dari kata naba’ yang berarti kabar yang besar. Sesuatu kabar tidak akan disebut naba’ hingga ia menjadi berita yang besar. Darinyalah kata nabi diambil, karena mereka menyampaikan berita yang besar.
Tidak ada perbedaan mendasar antara nabi dengan rasul. Hanya saja para nabi lebih umum dari pada rasul. Setiap rasul adalah nabi, tapi tidak setiap nabi adalah rasul.
Diantara ulama ada yang menambahkan ciri nabi adalah manusia yang mendapatkan wahyu , namun tidak diperintahkan menyampaikannya pada manusia. Sedangkan wahyu yang diterima rasul adalah untuk dirinya dan para manusia. Namun ciri ini dikritik oleh Syaikh Sulaiman Al Asyqar karena itu berlawanan dengan tugas utama nabi sebagai dai. Selain itu berlawanan pula dengan larangan mneyembunyikan ilmu yang ada dalam QS Al Baqarah:159). (Abdil Hadi, Tahqiqu at-Tauhid fi Syarhi Kitabi at-Tauhid, 19)

4. Shiddiqun

Manusia terbaik setelah para nabi dan rasul adalah shidiqqun. Mereka adalah para ulama rabbani pewaris para nabi, yang senantiasa berada di jalan ilmu, amal, dakwah, dan bersabar diatasnya. Allah memberikan kedudukan yang tinggi bagi mereka. Allah berfirman:
“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akna bersama-sama dengan orang yang dikaruniai nikmat oleh Allah, yaitu mati syahid, dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman sebaik-baiknya.”(QS. An Nisa’:69)
Begitu tingginya kedudukan para shiddiqun, sampai-sampai Allah sandingkan mereka dengan para rasul. Sebab mereka telah bersusah payah mengumpulkan warisan para nabi (ilmu) dan mnyebarkannya ketengah mat anusia. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabdah:
“Sesungguhnya Para Nabi tidak mewarisi dinar dan dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa yang telah mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi)

5. Imam Yang Adil
Yaitu para pemimpin yang menegakkan hukum Allah dan keadilan atas rakyatnya. Rakyat merasa tentram, aman dan sejahtera dibawah kepemimpinannya. Merek tegas dalam menghilangkan fitnah, kesyirikan, dan bid’ah. Karena itu Allah menjanjikan kemuliaan yang besar bagi para imam yang adil. Rasulullah SAW bersabdah:
“Tujuh golongan yang akan dinaungi pada hari dimana tidak ada naungan selai naungan-Nya. (salah satunya adalah) Imam yang Adil.” (HR. Tirmidzi)
Rasulullah SAW bersabdah:
“orang-orang yang berlaku adil berada disisi Allah di atas mimbar (panggung) yang terbuat dari cahaya, disebelah kanan Ar-Rahman ‘azza wa jalla –sedangkan kedua tangan Allah adalah kanan semua-,yaitu orang-orang yang berlaku adil dalam hukum,adil dalam keluarga dan adil dalam tugas yang dibebenkan mereka.” (HR. Muslim)

6. Mujahid fi Sabilillah

Yaitu para pejuang islam yang berperang meninggikan kalimat Allah. Yang telah mencucurkan peluh dan darah demi menjaga harta, jiwa dan kehormatan kaum muslimin. Karena itulah mereka berhak berserikat dengan amala kau muslimin yang mereka jaga. Sebab tidaklah seorang muslim beramal dengan aman, melainkan karena pengorbanan para mujahid.
Jika para mujahid berhasil membebaskan suatu negeri, lalu penduduknya mendapatkan hidayah karenanya, para mujahidin akan mendapatkan pahala seluruh penduduk dan keturunan mereka yang menerima hidayah.
Ada banyak ayat al Quran yang mengabarkan tentang keutamaan para mujahidin di sabilillah. Diantaranya, Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berjuang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al Qur’an.” (QS. At Taubah: 111)



Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, silahkan bagikan artikel ini. Semoga bisa menjadi amal jariyah. Barakallah fikum.

0 komentar:

Post a comment